Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fisika. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2021

Viskositas: Pengertian, Koefisien, Rumus Dinamis dan Kinematis


Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik dengan tegangan maupun tekanan.






Viskositas Di Kehidupan Sehari-hari





Pada kehidupan sehari-hari, viskositas adalah Ketebalan atau pergesekan internal. Oleh karena itu, air yang tipis, memiliki viskositas lebih rendah, sedangkan madu yang tebal, memiliki viskositas yang lebih tinggi.





Berarti, semakin rendah viskositas suatu fluida, semakin besar juga pergerakan dari fluida tersebut.





Viskositas menjelaskan ketahanan internal fluida untuk mengalir dan mungkin dapat dipikirkan sebagai pengukuran dari pergeseran fluida.





Sebagai contoh, magma yang memiliki viskositas yang tinggi menciptakan statovolcano yang tinggi dan curam, sehingga tidak dapat mengalir terlalu jauh sebelum mendingin. 





Sedangkan lava yang memiliki viskositas lebih rendah dari menciptakan volcano yang rendah dan lebar.





Seluruh fluida (kecuali superfluida) memiliki ketahanan dari tekanan, oleh karena itu disebut kental, tetapi fluida yang tidak memiliki ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluide ideal.





Koefisien Viskositas





Satuan Internasional (SI) koefisien viskositas adalah Ns/m2/pascal sekon (Pa s). Untuk Satuan cgs (centimeter gram sekon) dan untuk SI koifisien viskositas adalah dyn.s/cm2 = poise (p). Viskositas juga dapat dinyatakan dalam centipoise (cP). 1 cP = 1/1000 P.





Sifat-sifat Zat Cair





Sifat dari zat cair (Wylie, 1992) adalah sebagai berikut:





  • Mempunyai viskositas (kekentalan)
  • Mempunyai rapat masa dan berat jenis.
  • Mempunyai kohesi, adesi dan tegangan permukaan.
  • Jika ruangan lebih besar dari volume zat cair maka akan terbentuk permukaan bebas horizontal yang berhubungan dengan atmosfer.
  • Dapat dianggap tidak termampatkan.




Viskositas Dinamis (mutlak / absolut)





Viskositas absolut (koefisien viskositas mutlak) adalah sebuah ukuran resistensi ineternal.





Viskositas dinamis merupakan gaya tangensial per satuan luas yang dibutuhkan agar dapat memindahkan suatu bidang horisontal ke sebuah bidang lainnya, dalam unit velositas (velocity), ketika mempertahankan jarak dalam sebuah cairan.





Hukum Newton berbunyi: bahwa tegangan geser dalam suatu cairan sebanding dengan laju perubahan kecepatan normal aliran, laju kecepatan ini disebut sebagai gradien kecepatan.





Rumus Viskositas Dinamis





T = µ (dc / dy)





Keterangan :





  • T = Tegangan geser (N/m2)
  • µ = Viskositas dinamis (Ns/m2)
  • dc = satuan kecepatan (m/s)
  • dy = satuan jarak antara (m).




Dalam sistem SI satuan viskositas dinamis satuannya ialah (Ns/m2, Pa s atau kg/(ms), dimana:





1Pa s = 1Ns/m2 = 1kg/(ms)





Jika dinyatakan kedalam satuan metrik sistem CGS (centimeter, gram, seconds / detik)adalah: g/(cm s), dyne s/cm2 atau centipoise (cP), maka:





1 centipoise = 1dyne s/cm2 = 1g/(cm s) = 1/10 Pa s = 1/10 Ns/m2





Untuk pemakaian poise pada viskostatis maka akan menghasilkan angka yang terlalu besar sehingga sering dibagi dengan angka 100 yaitu dalam centipoise (cP), menjadi:





1P = 100cP





1cP = 0,01 poise = 0,01g/(cm s) = 0,001Pascal = 1miliPascal = 0,001Ns/m2





Air pada suhu 20,2C (68,4F) memiliki viskositas mutlak 1 centipoise.





Zat zat lainnya dapat kita lihat pada tabel dibawah ini:





ZatViskositas absolute
Udara1,983 × 10-5
Air1 × 10-3
Minyak zaitun1 × 10-1
Gliserin1 × 10
Madu cair1 × 101
Emas cair1 × 102
Kaca1 × 1040




Viskositas Kinematis





Viskositas kinematis adalah suatu rasio antara viskositas absolut untuk kepadatan (densitas) dengan jumlah dimana tidak ada kekuatan yang terlibat.





Viskostatis kinematik dihitung dengan membagi viskositas absolut cairan dengan densitas massa cairan.





Rumus Viskositas Kinematis





v = µ/ᵨ





Keterangan





  • v = viskositas kinematis satuan (m2/s)
  • µ = viskositas absolut / dinamis satuan (Ns/m2)
  • ᵨ = densitas satuan(kg/m3).




Dalam sistem SI atau (satuan internasional) satuan viskositas kinematis adalah m2/s atau Stoke (St), dimana:





1 st (stoke) = 10-4 m2/s = 1cm2/s





Karena Stoke merupakan satuan unit yang besar maka perlu di bagi dengan angka100, supaya menjadi unit yang lebih kecil, yaitu centiStoke (cSt), dengan begitu maka akan berubah menjadi :





1St = 100cSt





1cSt = 10-6m2/s = 1mm2/s





Berat jenis air pada suhu 20,2C (68,4F) adalah hampir satu dan viskositas kinematik air pada suhu 20,2C (68,4F) adalah praktis 1,0mm2/s (cSt). Lebih tepatnya, viskositas kinematis untuk air pada 20,2C (68,4F) adalah mm2/s (cSt).





Contoh konversi dari viskositas mutlak ke viskositas kinematik dalam satuan imperial adalah :





v = 6,7197 10-4 µ / y





Keterangan:





  • v = viskositas kinematik (ft2/s)
  • µ = viskositas absolut / dinamis (cP)
  • y = berat spesifik (lb/ft3).




Viskositas dan Referensi Suhu





Viskositas dinamis atau kinematik hal itu sangat penting karena tingkat viskositas cairan sangat bergantung dengan suhunya.





Menurut ISO 8217, referensi suhu untuk suatu cairan adalah 100C, dan untuk suatu cairan destilat adalah 40C.





Kesimpulan





Dari penjabaran di atas, dapat ditarik Kesimpulan:





  • Untuk suatu cairan atau fluida, semakin tinggi suhu, viskositas kinematik semakin rendah.
  • Untuk sebuah gas, semakin tinggi suhu, viskositas kinematik semakin tinggi.




Demikian pembahasan tentang VIskositas. Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Gaya





Listrik statis





Perpindahan Panas / Kalor





Hukum 1 2 3 Newton



Sumber gini.com

Selasa, 26 Januari 2021

Perubahan Fisika: Pengertian, Ciri-ciri, dan Contohnya


Contoh Perubahan Fisika





Pengertian Perubahan Fisika





Apa itu perubahan fisika?





Secara umum, perubahan fisika dapat diartikan sebagai perubahan pada zat yang tidak menyebabkan munculnya zat baru. Sifat partikel atau molekul zat pada perubahan fisika masih tetap sama.





Ada banyak sekali contoh perubahan fisika dalam kehidupan nyata yang sering kita alami di sekitar kita. Dalam perubahan fisika, zat tersebut masih memungkinkan untuk kembali ke bentuk semula.





Sedangkan dalam perubahan kimia, perubahan suatu zat menyebabkan munculnya zat baru.





Dalam perubahan fisika bisa menghasilkan perubahan ukuran, bentuk, wujud, perubahan yang diakibatkan pengeringan & pelarutan, perubahan yang diakibatkan arus listrik atau pemanasan, hingga perubahan pada volume dari suatu benda.





Perbedaan Ciri-Ciri Perubahan Fisika dan Kimia





Baik perubahan fisika maupun perubahan kimia, ada beberapa ciri yang bisa kita amati. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, kita bisa mengenali perbedaan antara kedua perubahan tersebut.





Silakan simak perbedaan antara perubahan fisika dan kimia.





Ciri-ciri Perubahan FisikaCiri-ciri Perubahan Kimia
Tidak menghasilkan zat baruMenghasilkan zat baru
Bisa kembali ke bentuk semulaTidak bisa kembali ke bentuk semula
Perubahan hanya terjadi pada wujudnyaTerjadi perubahan pada molekul
Sifat partikel tetap samasifat zat berbeda dengan sifat penyusunnya
Bisa terjadi karena proses pemanasan 




Perubahan Fisika




Contoh Perubahan Fisika Dalam Kehidupan Nyata





Apa saja contoh perubahan fisika di kehidupan nyata?





Jika kita perhatikan, ada banyak sekali contoh perubahan fisika yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita.





Contoh perubahan fisika yang sering terjadi misalnya kayu yang dibuat menjadi peralatan rumah tangga contohnya meja & kursi. Meja & kursi masih mempunyai sifat-sifat kayu & dari proses pembuatan hanya menghasilkan perubahan bentuk. Meja & kursi itu sendiri masih memiliki wujud kayu.





Kejadian ini cocok dengan ciri-ciri perubahan fisika, yaitu hanya mengubah wujudnya saja & memungkinkan untuk kembali ke bentuk semula.





Contoh lain dari perubahan fisika yang paling umum adalah saat es batu mencair. Es batu merupakan benda padat, tetapi setelah proses mencair, benda berubah menjadi air yang termasuk benda cair. Es yang sudah mencair menjadi air masih memungkinkan untuk kembali menjadi es batu lagi jika dibekukan di dalam kulkas.





Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah beberapa contoh perubahan fisika yang kita alamai dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita beserta proses yang menyebabkan perubahan fisika.





Perubahan FisikaProses Yang Dialami
Es batu menjadi airMencair
Kayu menjadi meja & kursiPengolahan
Lilin menjadi air saat dibakarMeleleh
Gula menjadi air gulaLarut
Benang menjadi kainPengolahan
Kain menjadi bajuPengolahan
Tanah liat menjadi genteng atau batu bataPengolahan
Air menjadi uap saat dipanaskanMenguap
Plastisin menjadi mainanPengolahan
Kertas menjadi mainanPengolahan
Es krim menjadi airMencair
Plastik menjadi hiasan dindingPengolahan
Logam besi menjadi kerajinanPengolahan
Besi menjadi pagarPengolahan
Biji kopi jadi bubuk kopiPengolahan
Air raksa menjadi uap Menguap
Garam menjadi air asinLarut
Beras menjadi tepungPengolahan
Kapur menjadi gasMenyublim
Air menjadi es batuMembeku
Tepung menjadi bahan memasakPengolahan
Alumunium menjadi sendok & garpuPengolahan
Uap air menjadi embunMengembun
Bambu menjadi kerajinan tanganPengolahan
Batu menjadi Kerikil setelah penumbukanPengolahan
Balon menjadi besar setelah ditiup Pengolahan
Air & pewarna gula menjadi agar-agarPengolahan




Demikian pembahasan tentang perubahan fisika mulai dari pengertian, sifat-sifat, ciri-ciri, hingga beberapa contoh perubahan fisika dan prosesnya.





Selain hal yang disebutkan di atas, ada banyak perubahan fisika lain yang bisa anda temui dalam kehidupan sehari-hari di sekitar anda. Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Frekuensi





Perpindahan Panas / Kalor





Hukum 1 2 3 Newton





Listrik statis





Gaya



Sumber gini.com

Sabtu, 23 Januari 2021

Besaran Pokok dan Turunan: Pengertian, Nama, dan Satuan


Di pertemuan kali ini kita akan membahas tentang rumus besaran pokok dan besaran turunan. Langsung saja simak pembahasannya di bawah.






Pengertian Besaran dan Satuan





Besaran merupakan sesuatu yang bisa diukur dan memiliki hasil yang dapat dinyatakan dalam bentuk angka (kuantitatif).





Dalam kehidupan sehari-hari kita sering sekali mengukur benda dengan besaran yang memiliki satuannya masing-masing dengan membandingkan suatu besaran dengan suatu standar.





Sedangkan satuan merupakan nama / sebutan yang digunakan untuk mengukur suatu besaran, misalnya second (s) / detik dalam pengukuran waktu. Setiap besaran memiliki satuannya masing-masing.





Berdasarkan satuannya, besaran terbagi atas dua jenis, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.





Besaran Pokok dan Besaran Turunan




Pengertian Besaran Pokok





Besaran Pokok merupakan besaran yang memiliki satuan yang sudah ditentukan terlebih dahulu (hasil kesepakatan para fisikawan zaman dulu). Dalam fisika, ada 7 besaran pokok. Untuk lebih jelasnya, langsung saja simak penjabarannya di tabel besaran pokok berikut.





Tabel Besaran Pokok Satuan Internasional (SI)





Nama BesaranSimbol BesaranNama SatuanSimbol Satuan
Panjanglmeterm
Massamkilogramkg
Waktutseconds
SuhuTkelvinK
Kuat Arusi ampereA
Intensitas Cahayalncandelacd
Jumlah Zat / Molekulnmolemol




Pengertian Besaran Turunan





Besaran Turunan merupakan besaran yang satuannya diturunkan dari beberapa besaran pokok sebagai penyusunnya. Berikut adalah beberapa besaran turunan.





Tabel Besaran Turunan Satuan Internasional (SI)





Nama BesaranSimbol BesaranRumusSimbol RumusSatuanSimbol Satuan
LuasLpanjang × lebarp × lMeter Persegim2
VolumeVpanjang × lebar × tinggip × l × tMeter Kubikm3
Kecepatanvperpindahan / waktus / tMeter per Sekonm/s
Percepatanakecepatan / waktuv / tMeter per Sekon Kuadratm/s2
GayaFmassa / percepatanm / aNewtonkg m/s2 (N)
Massa Jenisρmassa / volumem / VKilogram per Meter Kubikkg / m3
TekananPgaya / luasF / Lpascal kg/m s2(Pa)
UsahaWgaya × perpindahanF / sJoulekg m2/s2(J)
DayaPusaha / waktuW / tWattkg m2/s3(W)




Demikian pembahasan tentang besaran pokok dan besaran turunan. Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Perubahan Fisika





Frekuensi





Perpindahan Panas / Kalor





Viskositas





Hukum 1 2 3 Newton



Sumber gini.com

Minggu, 17 Januari 2021

Hukum 1 2 3 Newton: Pengertian, Bunyi Hukum, dan Rumus


Perlu kalian ketahui bahwa hukum newton ada 3 dan biasanya disebut hukum 1, 2 dan 3 newton. Simak penjelasan berikut ini.






Pengertian Hukum Newton





Hukum newton merupakan tiga hukum fisika sebagai dasar mekanika klasik menggambarkan hubungan antara gaya yang bekerja pada suatu benda bergerak.





Hampir semua rumus fisika berhubungan dengan gerak mulai dari jarak ataupun ketinggian. Sehingga hukum newton ini sangat penting dipelajari.





Suatu benda yang bergerak tidak bisa dijelaskan dengan logika, tetapi jika menggunakan hukum newton dapat dihitung berapa kecepatan serta jaraknya.





Benda jatuh dari atas kebawah, atau perpindahan benda dari suatu titik ke titik lain dapat diartikan bahwa benda itu bergerak atau berpindah tempat.





Bunyi Hukum Newton





Hukum 1 Newton





Jika resultan gaya yang bekerja pada benda yang sama dengan nol, maka benda yang mula-mula diam akan tetap diam. Benda yang mula-mula bergerak lurus beraturan akan tetap lurus beraturan dengan kecepatan tetap.





Rumus Hukum 1 Newton





Σ F = 0





Contoh Hukum 1 Newton




  • Saat menaiki bus yang bergerak cepat kemudian direm, penumpang akan terdorong kedepan.
  • Bus yang berjalan pelan kemudian mendadak menaikkan kecepatan, maka penumpang akan tercondong ke belakang.
  • Koin yang diletakkan di atas kertas, lalu kertas tersebut ditarik secara cepat, maka koin tersebut akan tetap.








Hukum 2 Newton





Percepatan dari suatu benda akan sebanding dengan jumlah gaya (resultan gaya) yang bekerja pada benda tersebut dan berbanding terbalik dengan massanya.





Rumus Hukum 2 Newton





Hukum 2 Newton




Keterangan:





  • Σ F = Resultan Gaya (N)
  • F = Gaya (N)
  • m = massa (kg)
  • a = percepatan (m/s2)




Contoh Hukum 2 Newton




  • Menarik gerobak untuk mengangkut beras dari sawah ke rumah.
  • Mobil-mobil yang ditarik dengan gaya yang sama, mobil yang massanya lebih besar (ada beban) percepatannya lebih kecil.
  • Mobil-mobil dengan massa yang sama jika ditarik dengan gaya yang lebih besar akan mengalami percepatan yang lebih besar pula.
  • Mengiring bola pada permukaan datar








Hukum 3 Newton





Jika suatu benda memberikan gaya pada benda lain maka benda yang dikenai gaya akan memberikan gaya yang besarnya sama dengan gaya yang diterima dari benda pertama tetapi arahnya berlawanan.





Rumus Hukum 3 Newton





Rumus hukum 3 newton ada tiga yaitu gaya gesek, gaya berat dan gaya sejenis.





Rumus Gaya Gesek





Fg = µ × N





Keterangan





  • Fg =Gaya gesek (N)
  • µ = Koefisien gesekan
  • N = Gaya Normal (N)




Rumus Gaya Berat





w = m × g





Keterangan





  • w =Gaya berat (N)
  • m = massa benda (kg)
  • g = Gaya gravitas (m/s2)




Berat Jenis





s = p × g atau  s = w / V





Keterangan





  • s =berat jenis (N/m3)
  • p = massa jenis (kg/m3)
  • g = Gaya gravitas (m/s2)
  • w = gaya berat (N)
  • V = Volume benda (m3)




Pelajari Lebih Lanjut





Perpindahan Panas / Kalor





Listrik Statis





Gaya





Viskositas



Sumber gini.com

Jumat, 15 Januari 2021

Kecepatan, Jarak, & Waktu (Rumus & Contoh Soalnya)


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang Kecepatan, Jarak, dan waktu mulai dari pengertian, hubungannya, rumus, hingga contoh soalnya. Berikut penjelasannya






Pengertian Kecepatan, Jarak, & Waktu





Kecepatan adalah nilai yang mempresentasikan seberapa cepat suatu benda melakukan atau mengalami perpindahan. Satuan internasioanl (SI) dari besaran Kecepatan adalah m/s.





Jarak adalah nilai yang mempresentasikan seberapa jauh benda mengalami perubahan posisi. Satuan internasional (SI) dari Jarak adalah meter (m).





Waktu adalah interval antara 2 buah kondisi, misalnya lama berlangsungnya suatu peristiwa. Satuan dari Waktu adalah detik atau sekon (s).





Besaran dari kecepatan, jarak, dan waktu bisa berbeda tergantung yang diketahui.





Rumus Kecepatan, Jarak, dan Waktu





Rumus Kecepatan





Secara umum, kecepatan dihitung dengan membagi jarak tempuh dengan waktu tempuh. Berikut ini rumus kecepatan. Rumus kecepatan disimbolkan sebagai berikut.





v = s / t





Keterangan :





  • v = Kecepatan (m/s)
  • s = Jarak yang ditempuh (m)
  • t = Waktu tempuh (s)




Berdasarkan rumus kecepatan, rumus jarak dan waktu adalah sebagai berikut.





Rumus Jarak





Secara umum, jarak tempuh dihitung dengan mengalikan kecepatan dengan waktu tempuh. Rumus jarak disimbolkan sebagai berikut.





s = v x t





Rumus Waktu





Secara umum, waktu dihitung dengan membagi jarak tempuh dengan kecepatan. Rumus waktu disimbolkan sebagai berikut.





t = s / v





Rumus Kecepatan Rata-Rata





Jika terdapat lebih dari 1 benda dengan kecepatan, jarak tempuh, dan waktu tempuh yang bervariasi, maka cara menghitung kecepatan rata-ratanya adalah sebagai berikut.





Rumus Kecepatan Rata Rata




Contoh Soal Kecepatan, Jarak, & Waktu




Contoh Soal 1




Motor Rudi menempuh jarak 500 meter dalam waktu 50 detik. Berapa kecepatan motor Rudi?





Diketahui:





s = 500 m





t = 50 s





Ditanya v=?





Penyelesaian





v = s / t





v = 500m / 50s





v = 10 m/s





jadi kecepatan motor Rudi adalah 5 m/s








Contoh Soal 2




Lia mengayuh sepeda dengan kecepatan 4 m/s. Berapa lama waktu yang dibutuhkan Lia untuk menempuh jarak 360 meter?





Diketahui





v = 4 m/s





s = 350 m





ditanya t = ?





Penyelesaian





t = s / v





t = 360m / (4 m/s)





t = 90 s





Jadi waktu yang dibutuhkan Lia adalah 90 sekon.








Contoh Soal 3




Diketahui jarak dari kota J ke kota S adalah 800 km, Sinta mengemudikan mobil dari kota J ke kota S selama 12,5 jam. Berapakah kecepatan mobil Sinta dalam perjalanan tersebut?





Diketahui:





Jarak kota J ke kota S adalah 800 km





Waktu tempuhnya (t) adalah selama 12,5 jam.





Ditanya: v = ?





Penyelesaian





v = s / t





v = 800 km / 12,5 jam





v = 64 km/jam





Jadi, Kecepatan mobil Sinta adalah 64 km/jam.









Demikian pembahasan tentang kecepatan, jarak, & waktu. Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Debit Air





Kalor Jenis





Tekanan Hidrostatis





Besaran Pokok dan Turunan





Perubahan Fisika



Sumber gini.com

Minggu, 10 Januari 2021

Amplitudo (Pengertian, Jenis, Rumus, dan Contoh Soal)


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang amplitudo mulai dari pengertian, rumus, hingga contoh soalnya. Yuk simak penjelasannya berikut.






Pengertian Amplitudo





Apa yang dimaksud dengan Amplitudo ? Amplitudo adalah pengukuran skalar non negatif dari besar osilasi gelombang.





Amplitudo bisa juga diartikan sebagai simpangan atau jarak terjauh dari titik kesetimbangan dalam gelombang sinusoide.





Dalam SI (sistem internasional) Amplitudo disimbolkan dengan huruf (A) dan menggunakan satuan meter (m).





Jenis Jenis Amplitudo





Secara umum, Amplitudo dibagi menjadi 3 jenis utama, yakni sebagai berikut.





  1. Amplitudo yang mempunyai pengukuran skalar non-negatif dari osilasi gelombang.
  2. Amplitudo yang mempunyai jarak terjauh dari titik kesetimbangan gelombang sinusoide.
  3. Amplitudo yang mempunyai simpangan terbesar dan terjauh dari titik keseimbangan getaran dan gelombang.




Rumus Amplitudo





Rumus Amplitudo merupakan sampingan dari rumus periode getaran berikut:





T = t/n





Keterangan:





  • T = Periode (s)
  • t = waktu melakukan getaran (s)
  • n = banyaknya getaran




Rumus Amplitudo berhubungan dengan rumus frekuensi getar. Mari kita perhatikan rumus frekuensi berikut.





f = n/t





Keterangan:





  • f = frekuensi getaran (Hz)




Berdasarkan 2 rumus di atas, dapat kita simpulkan hubungan antara frekuensi dan amplitudo adalah :





f = 1/T atau T = 1/f





Contoh Soal Amplitudo




Contoh Soal




Diketahui sebuah senar gitar bergetar sebanyak = 120 kali dalam = 1 menit. Berapa periode getar senar gitar tersebut?





Diketahui :





n = 120





t = 1 menit = 60 sekon





Ditanya : T =…?





Jawab:





T = t/n





T = 60s/120





T = 1s/2 = 0,5s





Jadi, periode getar senar gitar tersebut adalah 0,5 sekon









Demikian pembahasan tentang Amplitudo. Semoga bermanfaat.



Sumber gini.com

Perpindahan Panas / Kalor: Pengertian, Macam-macam, Rumus


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang perpindahan panas atau biasa disebut juga perpindahan kalor secara detail dan lengkap mulai dari pengertian, macam – macam, sifat – sifat, rumus perpindahan kalor.






Pengertian Perpindahan





Perpindahan yaitu sebuah perubahan kedudukan suatu benda setelah bergerak selama selang waktu tertentu.





Perpindahan dapat dikatakan besaran vektor sehingga selain memiliki besar juga memiliki arah.





Pengertian Perpindahan Panas





Perpindahan Panas merupakan salah satu dari displinnya ilmu teknik termal yang juga mempelajari cara menghasilkan panas, menggunakan panas, mengubah panas, dan menukarkan panas di antara sistem fisik.





Konduksi termal merupakan pertukaran mikroskopis langsung dari energi kinetik partikel melalui batas antara dua sistem.





Perpindahan Kalor (Panas) terbagi atas konduksi, konveksi, dan radiasi. Panas atau kalor adalah energi yang berpindah dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah.





Benda yang tidak bisa menghantarkan suatu panas yaitu disebut Isolator.





Macam – Macam Perpindahan Panas (Kalor)





Perpindahan Panas (Kalor) juga memiliki macam – macamnya, yaitu antara lain :





1. Konduksi





Konduksi adalah perpindahan panas melalui zat padat yang tidak ikut mengalami perpindahan. Konduksi pada suatu zat tidak disertai dengan perpindahan partikel – partikelnya.





Contoh Terjadinya Konduksi




  • Knalpot motor menjadi panas saat mesin dihidupkan.
  • Mentega yang dipanaskan di wajan menjadi meleleh karena panas.
  • Tutup panci akan menjadi panas saat dipakai untuk menutup rebusan air.
  • Benda yang terbuat dari logam akan terasa hangat atau panas jika ujung benda dipanaskan, misalnya ketika saat kita memegang kembang api yang sedang dibakar.








2. Konveksi





Konveksi adalah perpindahan panas melalui aliran yang zat perantaranya ikut berpindah. Jika partikelnya berpindah dan mengakibatkan kalor merambat, maka akan terjadilah konveksi.





Konveksi terjadi pada zat cair dan gas (udara/angin).





Contoh Terjadinya Konveksi




  • Terjadinya angin darat dan angin laut.
  • Gerakan balon udara.
  • Gerakan naik dan turun air ketika saat dipanaskan.
  • Asap cerobong pabrik yang membumbung tinggi.
  • Gerakan naik dan turun kacang hijau, kedelai dan lainnya pada saat dipanaskan.








3. Radiasi





Radiasi adalah perpindahan panas tanpa zat perantara. Radiasi juga biasanya dapat disertai cahaya.





Contoh Terjadinya Radiasi




  • Menetaskan telur unggas dengan lampu.
  • Tubuh terasa hangat pada saat berada di dekat sumber api.
  • Pakaian menjadi kering ketika dijemur di bawah terik matahari.
  • Panas matahari sampai ke bumi walau hanya melalui ruang hampa.








Rumus Perpindahan Panas (Kalor)





Perpindahan Panas (Kalor) juga memiliki rumus – rumusnya, yaitu antara lain :





Konduksi Laju Kalor = Q/t = kA (T2 – T1)/x
Konveksi Laju Kalor = Q/t = hA (T2 – T1)
Radiasi Laju Kalor = Q/t = σeAT4




Itulah pembahasan lengkap tentang perpindahan panas (kalor) seperti macam – macamnya konduksi, konveksi, dan radiasi beserta rumus. semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Hukum 1 2 3 Newton





Listrik Statis





Gaya





Viskositas



Sumber gini.com

Selasa, 05 Januari 2021

Tekanan Hidrostatis: Pengertian, Sifat, Rumus, Contoh Soal dan Pembahasannya


Tekanan adalah satuan dalam ilmu fisika untuk menyatakan gaya per satuan luas.





Tekanan bisa digunakan untuk mengukur kekuatan dari cairan atau gas. Tekanan juga bisa dihubungkan dengan satuan volume & suhu.





Tekanan Hidrostatis





Pengertian Tekanan Hidrostatis





Tekanan Hidrostatis merupakan tekanan dari air menuju ke semua arah di titik ukur manapun yang diakibatkan gaya gravitasi.





Tekanan hidrostatis meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman yang diukur dari permukaan air.





Karena adanya gaya gravitasi, partikel air akan menekan partikel yang ada di bawahnya, hal ini juga berlaku pada partikel-partikel air yang ada di bawahnya sehingga akan saling menekan ke dasar air yang mengakibatkan tekanan di bawah menjadi lebih besar dari tekanan yang di atas.





Semakin dalam suatu benda dari permukaan air, maka semakin banyak volume air yang ada di atas benda tersebut dengan permukaan air yang mengakibatkan tekanan yang diberikan air pada benda akan semakin besar.





Sifat – Sifat Tekanan Hidrostatis





Berikut adalah beberapa sifat tekanan hidrostatis:





  • Besar Tekanan zat cair ke segala arah adalah sama.
  • Besar Tekanan zat cair pada kedalaman yang sama adalah sama.
  • Bergantung pada gravitasi.
  • Bergantung pada massa jenis zat cair.
  • Tidak akan bergantung pada bentuk wadah.
  • Semakin jauh keadalaman benda dari permukaan air, tekanannya semakin besar.




Rumus Tekanan Hidrostatis





Tekanan hidrostatis tidak dipengaruhi oleh luasan permukaan air, maupun bentuk wadah air.





Tekanan hidrostatis menuju ke semua arah. Satuan tekanan adalah Pascal (Pa) atau Newton per meter kuadrat (N/m2).





Tekanan hidrostatis dirumuskan sebagai berikut:





P = ρ × g × h





Keterangan :





  • P = Tekanan Hidrostatik (N/m2 atau Pa).
  • ρ = Massa Jenis Zat Cair (kg/m3).
  • g = Percepatan Gravitasi (m/s2).
  • h = Kedalaman Dari Permukaan Zat Cair (m).




Rumus tersebut bisa dipakai untuk mengetahui berapa besar tekanan hidrostatis pada wadah tertutup. Misalnya botol, tangki, tabung tertutup.





Untuk mengukur besar tekanan di suatu titik di bawah permukaan air pada wadah terbuka misalnya danau, sungai, laut atau segala wadah terbuka, perlu ditambahkan besar tekanan atmosfer pada perhitungan.





Tekanan Hidrostatis Atmosfir




Jadi, tekanan hidrostatis pada wadah terbuka dapat dirumuskan sebagai berikut:





PTotal = PHidro + PAtm





PTotal = ρgh + PAtm





Dengan PAtm merupakan tekanan atmosfer pada permukaan laut sebesar 1,01 x 105 Pa.





Contoh Soal Tekanan Hidrostatis




Contoh Soal




Sebuah kapal selam sedang melakukan penyelaman pada kedalaman 10 m di bawah permukaan laut. Jika massa jenis laut adalah 1,03 x 103 kg/m3 dengan gaya gravitasi bumi 10 m/s2. Tentukan tekanan hidrostatis yang dialami oleh kapal selam tersebut !





Penyelesaian





Diketahui :





h = 10 m





ρ = 1,03 x 103 kg/m3





g = 10 m/s2





Ditanya : P =…..?





Jawab :





PTotal = ρgh + PAtm





PTotal = 1,03 x 103 kg/m3 × 10 m/s2 × 10m + 1,01 x 105 Pa





P = 1,03 x 105 Pa + 1,01 x 105 Pa





P = 2,04 x 105 Pa









Jadi, tekanan hidrostatis yang dialami kapal selam tersebut adalah 2,04 x 105 Pa.





Demikian pembahasan tentang tekanan hidrostatis. Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Besaran Pokok dan Turunan





Perubahan Fisika





Frekuensi





Listrik statis





Gaya



Sumber gini.com

Minggu, 03 Januari 2021

Debit Air: Pengertian, Rumus, Konversi, Contoh Soal dan Pembahasannya


Debit air digunakan sebagai penunjang kehidupan masyarakat dalam bentuk zat cair. Air memiliki peran terpenting dalam kebutuhan manusia.





Debit air sangat erat hubungannya dengan waktu & volume. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang debit air mulai dari pengertian, cara menghitung / rumusnya, hingga contoh soalnya. Langsung saja simak penjelasannya berikut.





Debit Air





Pengertian Debit Air





Debit air adalah kecepatan aliran zat cair melewati jarak penampang per satuan waktu. Debit air menggunakan satuan volume per waktu atau ml/detik, liter/detik, m³/detik, liter/jam, m³/jam, dan berbagai satuan lainnya.





Satuan debit sering digunakan dalam pengawasan daya tampung (kapasitas) air di sungai atau bendungan supaya air yang ada dapat dikontrol.





Rumus Debit Air





Debit air dapat dihitung dengan rumus berikut.





D = V / t





Keterangan





  • D = Debit
  • V = Volume
  • t = waktu




Beradasarkan rumus diatas, maka rumus volume dan waktu jika diketahui debitnya adalah





V = D × t





t = V / D





Konversi Satuan Dalam Debit Air





Ada berbagai satuan yang bisa digunakan dalam rumus debit air, karena tergantung satuan dalam volume dan waktu yang digunakan. Beberapa satuan volume dan waktu yang sering digunakan adalah sebagai berikut.





Satuan Volume





  • 1 liter = 1 dm³
  • 1 dm³ = 1.000 cm³
  • 1 cm³ = 1.000.000 mm³
  • 1 mm³ = 0.001 m³
  • 1 cc = 1 ml = 1 cm




Satuan Waktu





  • 1 jam = 60 menit
  • 1 menit = 60 detik atau 60 sekon
  • 1 jam = 3.600 detik atau 3.600 sekon
  • 1 menit = 1/60 jam
  • 1 detik = 1/60 menit
  • 1 jam = 1/3.600 jam




Contoh Debit Air




Contoh Soal Debit Air




Contoh Soal 1




Sebuah pipa mengeluarkan air yang volumenya 900 liter per jam. Berapa debit air yang keluar dari pipa dengan setiap menitnya?





Diketahui :





  • Volume (v) = 900 liter
  • waktu (t) = 1 jam = 60 menit




Ditanyakan : Debit air (Q) = ?





Jawab :





D = V / t





D = 900 liter / 1 jam





D = 900 liter / 60 menit





D = 15 liter / menit





Jadi debit air yang keluar pada pipa tersebut adalah 15 liter/menit.








Contoh Soal 2




Sebuah baskom diisi dengan air mulai pukul 07.30 Wib.s/d pukul 08.00 Wib. Jika debit air adalah 20 liter/ menit. Maka, berapa liter volume air yang ada di dalam sebuah baskom tersebut ?





Diketahui :





  • D = 20 liter
  • t = 30 menit




Ditanya : Volume air = ?





Jawab :





V = D × t





V = 20 liter × 30 menit = 600 liter





Jadi, volume air pada baskom adalah 600 liter.









Demikian pembahasan tentang debit air.  Semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Tekanan Hidrostatis





Besaran Pokok dan Turunan





Perubahan Fisika





Frekuensi





Viskositas



Sumber gini.com

Minggu, 27 Desember 2020

Momen Inersia (Pengertian, Faktor, Rumus, & Contoh Soal)


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang momen inersia mulai dari pengertian, faktor yang mempengaruhi, rumus-rumusnya, hingga contoh soalnya.





Yuk langsung saja simak pembahasannya berikut.






Pengertian Inersia





Inersia adalah suatu kecendrungan pada benda agar bisa mempertahankan keadaannya yang naik untuk tetap diam atau bergerak.





Benda yang sulit bergerak juga bisa dikatakan mempunyai inersia yang besar.





Pengertian Momen Inersia





Momen Inersia adalah ukuran nilai kecendrungan berotasi yang ditentukan oleh keadaan benda / partikel penyusunnya.





Kecenderungan tersebut berperan mempertahankan suatu keadaan diam atau bergerak lurus beraturan yang disebut dengan Inersia.





Inersia juga disebut dengan Lembam. Keadaan alami benda ini bisa berkaitan erat dengan hukum I Newton.





Maka dari itu, Hukum I Newton sering dikenal juga sebagai hukum inersia atau hukum kelembaman.





Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Momen Inersia





Besarnya momen inersia dari suatu benda bergantung pada beberapa faktornya, antara lain sebagai berikut:





  • Massa benda atau partikel
  • Letak sumbu putar benda
  • Bentuk (Geometri benda)
  • Jarak ke sumbu putar benda (jari-jari)




Rumus Momen Inersia





Pada suatu partikel dengan massa m yang sedang berotasi pada sumbunya dengan jari-jari R.





Momen inersia titik partikel tersebut bisa dinyatakan sebagai hasil kali massa partikelnya dengan jari-jarinya (jarak partikel ke sumbu putar). maka, momen inersia dapat dinyatakan dengan:





I = m.R2





Keterangan :





  • I = Momen Inersia (Kg m2)
  • m = Massa partikel (Kg)
  • R = Jari-jari rotasi (m)




Rumus Momen Inersia Pada Benda Berupa Titik





Pada benda berupa titik atau beberapa titik yang saling terhubung, maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = Ʃ m.R2





Keterangan:





  • I = Momen Inersia (Kg m2)
  • m = Massa (Kg)
  • R = Jarak kr titik poros (m)




Rumus Momen Inersia Pada Benda Berupa Batang Homogen





Batang Homogen adalah batang yang mempunyai sebuah massa yang tersebar merata dari pusat di tengah hingga ke ujung bagian batang.





Ada 3 bagian poros dari batang homogen, yaitu :





1. Poros di Pusat :





Untuk sumbu putar yang berada di titik pusat massa, maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = 1/12 m L2





Keterangan :





  • I = momen inersia (kg m2)
  • L = panjang batang (m)
  • m = massa (kg)




2. Poros di Salah Satu Ujung :





Untuk sumbu putar yang berada di salah satu ujung batang, maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = 1/3 mL2





Keterangan:





  • I = momen inersia (kg m2)
  • L = panjang batang (m)
  • m = massa (kg)




3. Poros Bergeser :





Untuk sumbu putar yang berada di sembarang tempat (bukan pusat maupun ujung), maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = 1/12 mL2 + m(k.l)2





Keterangan:





  • I = momen inersia (kg m2)
  • L = panjang batang (m)
  • k.l = panjang pergeseran (m)
  • m = massa (kg)




Rumus Momen Inersia Pada Benda Berbentuk Silinder





Silinder dibagi menjadi 3 jenis, yakni sebagai berikut:





1. Silinder Pejal





Untuk benda berbentuk silinder pejal, maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = 1/2 mR2





Keterangan :





  • I = momen inersia (kg m2)
  • R = jari-jari silinder (m)
  • m = massa (kg)




2. Silinder Tipis Berongga





Untuk benda berbentuk silinder tipis berongga, maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = m.R2





Keterangan :





  • I = momen inersia (kg m2)
  • R = jari-jari silinder (m)
  • m = massa (kg)




3. Silinder Berongga Tidak Tipis





Untuk benda berongga tidak tipis memiliki jari-jari luar dan jari-jari dalam, maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = 1/2 m (R12 + R22)





Keterangan:





  • I = momen inersia (kg m2)
  • R1 = jari-jari dalam silinder (m)
  • R2 = jari-jari luar silinder (m)
  • m = massa (kg)




Rumus Momen Inersia Pada Benda Berbentuk Bola





Bebda berbentuk bola terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :





1. Bola Pejal





Untuk benda berbentuk bola pejal, maka rumus momen inersianya adalah sebagai berikut.





I = 2/5m.R2





Keterangan:





  • I = momen inersia (kg m2)
  • R = jari-jari bola(m)
  • m = massa (kg)




2. Bola Berongga :





Rumus bola berongga adalah :





I = 2/3 m.R2





Keterangan:





  • I = momen inersia (kg m2)
  • R = jari-jari bola(m)
  • m = massa (kg)




Contoh Soal Momen Inersia




Contoh Soal 1




Diketahui sebuah batang homogen dengan panjang 0,6 m dan bermassa 0,6 kg. Jika gumpalan lumpur bermassa 0,2 kg ditaruh pada salah satu ujung batangnya, maka momen inersia sistem melalui pusat batang tersebut adalah….





Penyelesaian :





I = 1/12mL2 + mR2





I = 1/12 × (0,6) × (0,6)2 + 0,02 × (0,3)2





I = 0,018 + 0,0018 = 0,0198





I = 1,98 × 10-2 kg m2





Jadi, momen inersia sistem melalui pusat batang tersebut adalah 1,98 × 10-2 kg m2.








Contoh Soal 2




Sebuah silinder pejal memiliki massa 2 kg dengan jari-jari 10 cm diputar melalui sumbu silinder dan segumpal lumpur bermassa 200 g menempel pada jarak 5 cm dari pinggir silindernya, maka hitunglah momen inersia sistem!





Penyelesaian:





I = Isilinder + Ilumpur





I = 1/2 mR2 + m.r2





I = 1/2 × (2)×(0,1)2 + 0,2 × (0,05)2





I = 0,01 + 0,0005 = 0,0105





I = 1,05 × 10-2 kg m2





Jadi, momen inersia sistem tersebut adalah 1,05 × 10-2 kg m2









Demikian pembahasan tentang momen inersia, semoga bermanfaat.





Pelajari Lebih Lanjut





Amplitudo





Kalor Jenis





Kecepatan, Jarak, & Waktu





Debit Air





Tekanan Hidrostatis



Sumber gini.com

Jumat, 25 Desember 2020

Listrik statis: Pengertian, Konsep Dasar, Medan, Rumus, Contoh


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang listrik statis mulai dari pengertian, rumus, dan contoh. Langsung aja simak penjelasan berikut.






Pengertian Listrik Statis





Listrik statis adalah kumpulan muatan listrik dalam jumlah tertentu yang statis (tetap), ketidakseimbangan muatan listrik di dalam atau permukaan benda.





Muatan listrik akan tetap ada sampai sebuah arus listrik melepaskan muatan listrik.





Jadi listrik statis berhubungan dengan gejala kelistrikan yang diam alias tidak mengalir.





Listrik statis tidak bisa mengalir dari satu tempat ke tempat lain atau hanya bisa ada sesaat pada suatu tempat, berbeda dengan Listrik Dinamis.





Konsep Dasar Listrik Statis





Ketika berbicara mengenai listrik, kita juga akan membahas muatan listrik, listrik statis (electrostatic), yaitu muatan listrik yang ada dalam keadaan statis (diam).





Listrik Statis




Muatan listrik muncul karena adanya perpindahan elektron dari satu benda ke benda lain.





Terdapat 2 muatan listrik yaitu muatan positif dan muatan negatif.





Muatan positif adalah muatan yang mengandung proton lebih banyak daripada elektron, dan begitupun sebaliknya.





Sedangkan muatan yang jumlah protonnya sama dengan electronnya adalah muatan netral.





Benda yang mempunyai muatan yang sejenis akan saling tolak-menolak ketika didekatkan satu sama lain, sebaliknya benda yang mempunyai muatan yang berbeda akan saling tarik-menarik.





Interaksi yang terjadi antar muatan listrik bisa dijelaskan dengan Gaya Coulomb,





Medan Listrik





Suatu muatan listrik dikatakan mempunyai medan listrik.





Medan listrik adalah daerah di sekitar benda yang bermuatan listrik yang masih mengalami gaya listrik.





Secara sederhana, medan listrik adalah suatu area dimana gaya listrik masih bekerja.





Medan listrik merupakan efek yang timbul oleh muatan listrik dalam suatu benda.





Medan Listrik Statis




Arah medan listrik dari sebuah benda bermuatan listrik bisa digambarkan dengan garis-garis gaya listrik.





Sebuah muatan positif mempunyai garis gaya listrik menjauhi (keluar) dari muatan tersebut.





Dan sebuah muatan negatif mempunyai garis gaya listrik mendekati (masuk) muatan negatif.





Rumus Listrik Statis





Berikut ini rumus-rumus listrik statis beserta uraian penjelasan.





Nama EnergiRumus
Gaya CoulombRumus Gaya Coulomb
Kuat Medan ListrikRumus Kuat Medan Listrik
Potensial ListrikRumus Potensial Listrik
Energi PotensialRumus Energi Potensial
UsahaWAB = q(VB – VA) = q ΔV
Kapasitor Keping SejajarRumus Kapasitor Keping Sejajar
Energi KapasitorRumus Energi Kapasitor
Bola KapasitorC = 4 π ε0 r




Keterangan:





  • WAB = usaha memindahkan muatan dari potensial A ke B
  • Q = muatan sumber
  • q = muatan uji
  • R = jarak antar muatan
  • k = 8,99 × 109 N m2 C2
  • C = kapasitansi kapasitor
  • r = jari-jari bola
  • ε0 = permitivitas ruang hampa
  • K = koefisien dielektrik
  • A = luas penampang plat
  • d = jarak antar keping




Contoh Listrik Statis





Mungkin anda sering sekali menjumpai contoh listrik statis dalam kehidupan sehari-hari tanpa anda sadari. Misalnya:





  1. Saat Anda menyisir rambut, rambut akan terbawa berdiri sendiri beriringan dengan gerakan sisir. Hal tersebut dikarenakan ada interaksi muatan antar sisir dengan rambut.
  2. Penggaris atau sisir yang digosok-gosok ke rambut atau tangan kering akan menarik potongan kertas kecil.
  3. Penggaris plastik digosok dengan kain woll. Kedua benda tersebut memiliki muatan netral, tetapi saat dua benda tersebut digesekkan maka akan ada perpindahan elektron dari kain woll ke penggaris plastik. Sehingga penggaris plastik memiliki muatan negatif dan kain woll memiliki muatan positif.
  4. Kain sutra yang digosok-gosok dengan batang kaca. Akan terjadi reaksi tarik-menarik antara dua benda tersebut. Karena elektron dari batang kaca akan berpindah ke kain sutera sehingga batang kaca akan memiliki muatan positif dan batang kaca akan memiliki muatan negatif
  5. Ketika Anda mendekatkan tangan ke layar TV yang baru saja dimatikan. Bulu atau rambut yang ada di tangan Anda akan berdiri.




Demikian penjelasan tentang listrik statis, semoga dapat memberikan manfaat bagi anda.





Pelajari Lebih Lanjut





Perpindahan Panas / Kalor





Hukum 1 2 3 Newton





Gaya





Viskositas



Sumber gini.com

Kamis, 17 Desember 2020

Kalor Jenis: Pengertian, Rumus, Satuan, Tabel, dan Contoh Soal


Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang Kalor Jenis. Langsung saja kita simak pembahasannya berikut.






Pengertian Kalor Jenis





Kalor merupakan salah 1 bentuk energi yang bisa berubah dari suatu bentuk ke bentuk yang lain. Kalor bisa juga dipindahkan kepada suatu benda atau ke benda lain.





Kalor bisa dipindahkan ke suatu benda dengan pemanasan yang mengakibatkan kenaikan suhu pada benda tersebut. Cara lainnya dalah dengan cara pendinginan yang mengakibatkan penurunan suhu benda tersebut.





Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan sebuah zat untuk menaikkan suhu 1 gr zat tersebut sebesar 1 derajat Celcius. Misalnya:





kalor jenis besi = 460 J/kg°C





kalor jenis air = 4200 J/kg°C





Kapasitas kalor merupakan jumlah kalor yang diserap benda dengan massa tertentu untuk menaikkan suhu sebesar 1⁰C.





Dalam sistem international Satuan yang digunakan untuk menyatakan besarnya kapasitas kalor adalah J/K.





Rumus Kalor Jenis





Rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya perpindahan kalor adalah sebagai berikut:





Q = m×c×ΔT





Keterangan :





  • Q : banyak kalor yang diterima ataupun dilepas oleh suatu benda (J)
  • c : kalor jenis zat (J/kg⁰C)
  • m : massa benda yang menerima ataupun melepas kalor (kg)
  • ΔT : perubahan suhu (⁰C)




Berdasarkan persamaan di atas, maka rumus kalor jenis adalah





c = Q / (m × ΔT)





Sedangkan rumus yang digunakan untuk menghitung kapasitas kalor adalah sebagai berikut





C = Q / ΔT





Keterangan:





  • C = kapasitas kalor (J/K)
  • ΔT = perubahan suhu (K)
  • Q = banyaknya kalor (J)




Berdasarkan rumus kalor jenis, maka rumus lain untuk kapasitas kalor adalah sebagai berikut:





C = m×c





Keterangan :





  • C : kapasitas kalor (J/K)
  • c : kalor jenis zat ( J/kg.K )
  • m : massa benda yang menerima ataupun melepas kalor (kg)




Satuan-satuan Kalor Jenis





Satuan-satuan untuk besaran kalor jenis adalah sebagai berikut :





J/kg K





J/kgoC





kal/goC





kkal/kgoC





Kalor jenis menyatakan kemampuan suatu benda dalam menyerap kalor. Semakin besar kalor jenis dari suatu benda, maka semakin besar pula kemampuan benda tersebut dalam menyerap kalor.





Artinya, setiap zat (benda) membutuhkan kalor yang berbeda untuk menaikkan suhu yang sama dengan massa yang sama.





Tabel Kalor Jenis





Berikut adalah tabel kalor jenis untuk beberapa benda (zat):





Nama Benda (Zat)J/KgoCkal/KgoC
Air42001000
Alkohol2400550
Alumunium900210
Besi/Baja450110
Emas13030
Es2100500
Gliserin2400580
Kaca670160
Kayu1700400
Kuningan38090
Marmer860210
Minyak Tanah2200580
Perak23060
Raksa14030
Seng39090
Tembaga39090
Timah Hitam13031
Timbal13030
Tubuh Manusia3470830
Uap Air2010480




Contoh Soal Kalor Jenis





Contoh Soal 1





Sebuah zat cair dengan suhu 25oC memilliki masa 10 kg dipanaskan menjadi 75oC dengan panas sebesar 5000 Joule. Hitunglah kalor jenis zat cair tersebut!





Penyelesaian




Diketahui :





T1 =25o C





m =10 kg





T2 =75o C





Q =5000 joule





Ditanya : c…?





Jawab :





Q =m×c×ΔT





ΔT =T2-T1





ΔT =75-25





ΔT =50oC





c =Q/(m×Δt)





c =5000 j/(10 kg×50oC)





c =10 J/kgoC









Contoh Soal 2





Pada suhu 34 oC, massa sebuah cincin logam adalah 4gr. Kemudian Cincin logam itu dipanaskan dengan kalor sebesar 6 kal yang mengakibatkan suhu pada cincin berubah menjadi 57,5 oC. Berapakah nilai kalor jenis cincin logam tersebut.





Penyelesaian





Diketahui :





t1 =34 oC





m =4 gr





Q =6 kal





t2 =57,5 oC





Ditanyakan : c = .…?





Jawab :





Δt =t2 – t1





Δt = 57,5 – 34





Δt =23,5 oC.





c =Q/ (m× Δt)





c =6 kal/(4 gr× 23,5 oC)





c =0,064 kal/groC.









Demikian pembahasan tentang kalor jenis, semoga bermanfaat.



Sumber gini.com

Senin, 14 Desember 2020

Frekuensi: Pengertian, Rumus, dan Contoh Soal


Kali ini kami akan menyampaikan materi tentang frekuensi yang meliputi pengertian, rumus, hingga contoh soalnya. Simak penjelasannya berikut.






Pengertian Frekuensi





Frekuensi adalah laju pengulangan peristiwa yang sama. Singkatnya frekuensi dapat diartikan sebagai jumlah getaran dalam satu detik.





Dalam rumus frekuensi, simbol-simbol yang akan sering digunakan adalah sebagai berikut:





  • f: frekuensi
  • T: waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu getaran gelombang.




Frekuensi dilambangkan dengan huruf f dan menggunakan satuan Hertz (Hz).





Cara Menghitung Frekuensi





Frekuensi adalah jumlah gelombang atau getaran per detik. Detik merupakan satuan Periode atau waktu yang dilambangkan dengan huruf “T”.





Jadi, kita harus mengetahui “Periode” atau “waktu” dalam satuan detik (second) agar bisa menghitung frekuensi.





Periode didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan untuk menghasilkan satu siklus pengulangan gelombang atau getaran yang lengkap.





Untuk lebih jelasnya, berikut kami sajikan rumus untuk menghitung frekuensi.





Rumus Frekuensi





Kita bisa mengukur waktu antara 2 buah kejadian atau peristiwa (periode), n sebagai getaran lalu memperhitungkan frekuensi (f) sebagai hasil kebalikan dari periode (T).





Untuk lebih jelasnya, berikut kami jabarkan beberapa rumus frekuensi berdasarkan situasi yang berbeda :





RumusKeterangan
Rumus Frekuensi 1f = Frekuensi (Hz)
n = Jumlah getaran
t = Waktu untuk bergetar (detik atau sekon)
Rumus Frekuensi 2f = Frekuensi (Hz)
T = Periode (sekon)
Rumus Frekuensi 3f = Frekuensi (Hz)
c = Cepat rambat gelombang (m/s)
λ = Panjang gelombang (meter)
Rumus Frekuensi 4f = Frekuensi (Hz)
E = Energi kuantum
h = Konstanta planck (6,626176 x 10-34 Js)




Contoh Soal Frekuensi Beserta Pembahasannya





Contoh 1




Sebuah pegas menghasilkan frekuensi 20 Hz. Berapakan periode getaran itu ?





Pembahasan





Diketahui : f =50 Hz





Ditanya : T =…?





Penyelesaian :





T = 1/f





T = 1/20 = 0,05 s





Maka, Periode getaran pegas adalah 0,05 detik.









Contoh 2




Jika benda A bergetar 120 kali per detik, dan benda B bergetar 150 kali per detik. Hitung perbandingan antara frekuensi benda A dengan benda B!





Pembahasan





Diketahui :





Frekuensi ialah banyaknya getaran yang terjadi setiap sekon, maka :





Frekuensi benda A = 120/s = 120 Hertz





Frekuensi benda B = 150/s = 150 Hertz





Penyelesaian :





Perbandingan frekuensi benda A dan benda B adalah :





Contoh Soal Rumus Frekuensi




Jadi perbandingan frekuensi benda A dan benda B adalah 4 : 5.









Demikian pembahasan tentang frekuensi. Semoga bermanfaat.





Pelajari Materi Terkait





Gaya





Viskositas





Hukum 1 2 3 Newton





Perpindahan Panas / Kalor





Listrik statis



Sumber gini.com